Skip to main content

Preparing for JLPT N4

JLPT alias Japanase Languange Proficiency Test adalah ujian kemampuan berbahasa Jepang yang biasanya diadakan setahun 2x, awal Juni dan Awal Desember. Biayanya biasanya ada perubahan tiap tahun tapi berkisar Rp150-250ribu dan sertifikatnya juga tidak ada batas kadaluwarsa. Pendaftaran dibuka sekitar pertengahan Februari dan Agustus, tapi untuk info lebih pasti, selalu cek di https://jlptonline.or.id/ . Tahun 2020 ini sepertinya ada perubahan akibat wabah Covid-19.

Saya mengambil ujian N4 pada tahun 2016. Awalnya saya pikir mau ambil dari N5 dulu, tapi ada teman yang menyarankan untuk langsung ambil N4 karena N5 terlalu mudah. Dan karena tesnya setahun hanya 2x, saya pikir tidak ada salahnya langsung ambil N4 kalau memang tidak begitu jauh bedanya. Tapi perjuangan belajarnya tetap lumayan. Karena bekerja, waktu untuk les sudah tidak mungkin ada, belum lagi biayanya cukup besar serta pertimbangan transport.


Akhirnya saya putuskan untuk belajar sendiri menggunakan buku terbitan Gakushudo. Kenapa Gakushudo? Karena ini adalah buku teks belajar bahasa Jepang yang tersedia sampai setidaknya level N2 dan juga paling murah yang bisa saya temukan. Harganya sangat jauh di bawah buku-buku teks import yang lebih terkenal. Budget saya terbatas untuk buku-buku mahal, tapi bila ada budget berlebih, tidak ada salahnya mencoba buku-buku yang lebih direkomendasikan banyak orang seperti Genki, Kanzen Masters, dan Nihongo So-Matome.

Untungnya bagi saya Gakushudo sudah cukup menolong. Di setiap buku ada list grammar / sentence pattern dan tata cara penggunaannya, lalu ada list kanji dan vocabulary yang kira-kira biasanya keluar di ujian. Saya hafalkan kedua buku ini sebanyak yang saya bisa, lalu dekat-dekat waktu ujian, saya gunakan buku soal latihannya untuk menguji kesiapan saya.

Selain tidak terlalu mahal, kelebihan buku Gakushudo adalah, buku N5 mereka saya perhatikan sebenarnya mencakup bahan N4. Sementara N4 juga mencakup bahan pelajaran N3. Perkiraan saya adalah mungkin karena buku ini sudah ditulis lama dan jaman dulu JLPT dibagi hanya 4 level (N1 sampai N4) bukan 5 level seperti sekarang. N5 dan N4 mudah ditemukan di toko buku seperti Gramedia. Tapi N3 dan N2nya agak sulit. Sementara N1 sepertinya tidak ada.

Kelemahan metode menghafal manual dan otodidak, ketika saya kebingungan dengan tata bahasa tertentu, saya tidak tahu harus bertanya ke siapa. Lalu karena awal-awal belajar sendiri, saya belum ngeh dengan aplikasi atau metode lain yang lebih efektif untuk belajar.

Untuk buku soal-soal latihan ujian, sedikit saran dari saya, gunakan latihan-latihan ini sebagai gladiresik ujian. Sekitar Mei atau November biasanya sudah ada informasi lokasi serta jadwal jam dan menit pelaksanaan ujian, maka lakukan latihan ujian seperti jadwal yang tercantum.

Umumnya pelaksanaan ujian N4 adalah sebagai berikut :
9.00 sudah harus siap di lokasi ujian, ujian dilaksanakan sekitar jam 10.00
30 menit ujian vocabulary dan kanji
5-10 menit istirahat
60 menit ujian grammar dan reading
5-10 menit istirahat
35 menit ujian listening
Selesai~

Dengan mencoba latihan ujian ala gladiresik mengikuti jadwal yang sesungguhnya, kita jadi bisa memperhatikan bagaimana nantinya kira-kira daya konsentrasi dan kebutuhan fisik selama mengikuti ujian. Misalnya ujian listening selalu dilaksanakan paling akhir sekitar jam 12 siang. Konsentrasi saya biasanya sudah tergerus di ujian reading yang memakan stamina, dan itu adalah jam makan siang sehingga perut saya mudah geruyukan. Untuk menyiasatinya, saya membawa makanan dan minuman secukupnya seperti biskuit atau snack bar. Kedua tipe makanan itu cukup untuk mengenyangkan perut, cepat dan tidak repot waktu dimakan, serta tidak berlebihan sampai membuat saya harus ke toilet.

Istirahat 5-10 menit tidak terlalu lama sehingga sebaiknya hindari toilet karena PASTI NGANTRI. Sebisa mungkin gunakan toilet sebelum ujian dan jaga kondisi badan supaya tidak perlu membutuhkan toilet selama ujian. Lebih baik gunakan waktu istirahat yang terbatas untuk peregangan, ganjel perut, dan sedikit review atau menyiapkan konsentrasi sebelum masuk ke ujian selanjutnya.

Untuk ujian listening, ini adalah bagian yang paling butuh fokus dan konsentrasi mengikuti ujian. Saran dari saya, awal-awal kaset/cd disetel, gunakan untuk baca atau cek gambar soal-soal part pertama. Sehingga ketika soal dibacakan, di kepala sudah lebih ada arahan pertanyaan dan jawaban apa yang diminta.

Lalu kalau loss di 1 soal, stop dan jangan sampai bingungnya dibawa merusak konsentrasi di soal-soal selanjutnya. "Apa sih memangnya yang bikin jawaban kamu ketika udah ngga denger soal lebih bener daripada pas dengerin soal?" itu mantra saya untuk langsung skip dan fokus ke soal berikutnya.

Kalau dapat tempat ujian yang bukan di Unsada, ada kemungkinan noise dari luar masuk dan mengganggu ujian. Ini pernah terjadi pada saya waktu N3, tapi biarlah jadi cerita di lain waktu.

Februari 2017, setelah penantian sekitar 2 bulan, akhirnya saya mendapatkan hasil ujian. Saya lulus dengan nilai pas-pasan. Tapi puji syukur saya bisa melewati batas bawah nilai dan mendapatkan sertifikat ujian N4. ~

Comments

Popular posts from this blog

Enjoying Office Life

Tadinya saya pikir saya lebih cocok freelance dan bekerja sendiri, tapi ternyata berkantor dan belajar bekerja sama dengan orang lain juga menyenangkan dan jadi pengalaman yang tak kalah penting. Saya sangat menyukai pekerjaan saya. Teman-teman di kantor menyenangkan, dan perusahaan menerapkan sistem meritokrasi yang berdasarkan kemampuan pegawai. Gaji mungkin tidak sebesar kantor-kantor besar yang lebih established. Tapi cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Ditambah dengan proyek sampingan di luar kantor, saya masih bisa punya budget menabung rutin dan sesekali bersenang-senang. Melewati masa muda ketika krismon 98 dan melihat ayah saya berapa kali gagal bayar pinjaman bank membuat saya selalu menabung supaya ada dana darurat. Dan meski sudah jadi karyawan tetap beberapa tahun, saya juga masih sering takut kalau suatu waktu kondisi tidak bagus dan harus berhenti ngantor tanpa ada bemper. Pelan-pelan kantor semakin berkembang dan tantangan semakin bermunculan dengan pr...

About Me?

Bila dikisahkan, saya rasa 30 tahun terakhir kehidupan saya mungkin sesuatu yang umum ditemukan. Genrenya boleh dikatakan slice of life yang sesekali dramatis. Belum tahu endingnya akan seperti apa, bisa saja jadinya kentang. Tapi sekentang-kentangnya semoga masih bisa jadi french fries atau baked potato yang memberi kebahagiaan. (eh gimana?) Saya lahir sebagai anak perempuan pertama dari 2 bersaudara di keluarga berlatar belakang minoritas dan kelompok ekonomi menengah tanggung. Ngga pantes dibilang miskin tapi dibilang kaya juga susah. Pernah sih ada momen yang bolehlah disebut lumayan kaya, tapi sejak krismon 98, grafis keuangan keluarga terus menurun. Meski mepet-mepet, saya cukup beruntung segala kebutuhan saya dari kecil hingga dewasa terpenuhi dengan baik. Orang tua saya juga termasuk yang memberi kebebasan untuk saya mengeksplor hobi sedari kecil. Meski keduanya tidak lulus SD, mereka menganggap pendidikan adalah penting untuk anak-anaknya dan bekerja keras menyekolahkan ...

2 Januari 2015

Waktu itu saya terbangun di pagi buta dengan firasat yang aneh. Seperti ada yang menyuruh "Ayo ke Jepang!" Tidak biasanya memang saya bangun kepagian. Apalagi pake firasat-firasat segala. Beberapa bulan sebelumnya saya memang baru berwisata ke Jepang bersama adik saya. Jadi mungkin sekedar kangen ingin jalan-jalan lagi saja. Atau mungkin juga itu firasat untuk melarikan diri dari situasi-situasi menyebalkan di masa depan.  "Tahu diri lah sama isi dompetmu" pikir saya selanjutnya. Lalu saya pun kembali melanjutkan tidur. Besok sudah kembali ngantor jadi marilah puas-puasin di penghujung hari libur Tahun Baru 2015.