Skip to main content

About Me?

Bila dikisahkan, saya rasa 30 tahun terakhir kehidupan saya mungkin sesuatu yang umum ditemukan. Genrenya boleh dikatakan slice of life yang sesekali dramatis. Belum tahu endingnya akan seperti apa, bisa saja jadinya kentang. Tapi sekentang-kentangnya semoga masih bisa jadi french fries atau baked potato yang memberi kebahagiaan. (eh gimana?)

Saya lahir sebagai anak perempuan pertama dari 2 bersaudara di keluarga berlatar belakang minoritas dan kelompok ekonomi menengah tanggung. Ngga pantes dibilang miskin tapi dibilang kaya juga susah. Pernah sih ada momen yang bolehlah disebut lumayan kaya, tapi sejak krismon 98, grafis keuangan keluarga terus menurun.

Meski mepet-mepet, saya cukup beruntung segala kebutuhan saya dari kecil hingga dewasa terpenuhi dengan baik. Orang tua saya juga termasuk yang memberi kebebasan untuk saya mengeksplor hobi sedari kecil. Meski keduanya tidak lulus SD, mereka menganggap pendidikan adalah penting untuk anak-anaknya dan bekerja keras menyekolahkan kami berdua lengkap dari TK hingga lulus kuliah.

Saya tidak terlalu suka olahraga dan lebih tertarik pada kesenian. IQ saya konon tinggi, tapi hasil akademisnya lumayan-lumayan saja. Tidak dibawah rata-rata tapi juga tidak jelek-jelek amat. Pernah 1-2x ranking kalau lagi niat, namun saya tidak terlalu ambisius juga untuk sampai belajar mati-matian.

Hobi saya membaca komik dan mendengarkan musik. Kalau waktu jaman sekolah juga getol main game dan nonton anime, tapi belakangan sudah jarang karena hobi nonton itu memakan waktu yang lumayan. Dari hobi-hobi itulah saya jadi kecantol Jejepangan. Cita-cita masa sekolah saya menjadi komikus, ilustrator, atau membuat game. Setidak-tidaknya saya ingin bisa mencari uang dari menggambar. Ada juga keinginan untuk jalan-jalan ke Jepang, tapi dulu itu hanya seperti angan-angan kejauhan.

Karena sedari kecil pilihan sekolah saya selalu swasta, dan karena fokus saya lebih ke "ingin mencari uang dari menggambar", sewaktu lulus SMA saya langsung memilih mau kuliah di jurusan desain grafis tanpa macam-macam ambisi seperti harus masuk universitas negri ternama dan sebagainya. Sempat ada keengganan dari Ibu yang kuatir masa depan saya bagaimana kalau memilih jurusan yang beliau anggap kurang menjanjikan atau kurang "perempuan" pada masa itu. Tapi untungnya Ayah saya mendukung, selama saya memilih dengan pikir matang-matang serta belajar serius. Memang ada kekuatiran apakah saya bisa kuliah dengan baik serta kebutuhan perkakas ini itunya yang mahal. Tapi syukurlah semua bisa dilalui dan saya sangat menikmati masa-masa indah kuliah.

Note.
Pesan saya buat adik-adik yang mau masuk desain grafis, kalau ada barang mahal untuk mata kuliah yang tidak terlalu kalian minati, sebisa mungkin jangan beli! Misalnya kalau kalian nga terlalu suka fotografi, jangan beli kamera hanya untuk dipakai pas kuliah. Sebisa mungkin pinjam saja daripada sudah buang uang tapi nantinya tidak terpakai. ^^;

Kurang lebih demikian 20 tahun pertama hidup saya dijalani. Sebenarnya ada saja drama-drama keluarga dan drama sekolahnya. Tapi kalau menilik kembali dengan usia saya yang sekarang, rasanya jadi bukan hal besar dan kadang konyol. Tapi wajar lah, perspektif manusia tentu akan selalu berubah seiring bertambahnya usia.

Dari kecil hingga lulus kuliah bisa dibilang saya berjalan dengan target tujuan yang jelas arahnya. Semuanya pun berubah setelah terjun ke dunia masyarakat, segala pilihan dan konsekuensinya makin kelihatan ngga karuan. Yang namanya pembelajaran hidup tidak akan pernah selesai, mungkin hingga akhir hayat sekalipun.


Comments

Popular posts from this blog

Enjoying Office Life

Tadinya saya pikir saya lebih cocok freelance dan bekerja sendiri, tapi ternyata berkantor dan belajar bekerja sama dengan orang lain juga menyenangkan dan jadi pengalaman yang tak kalah penting. Saya sangat menyukai pekerjaan saya. Teman-teman di kantor menyenangkan, dan perusahaan menerapkan sistem meritokrasi yang berdasarkan kemampuan pegawai. Gaji mungkin tidak sebesar kantor-kantor besar yang lebih established. Tapi cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Ditambah dengan proyek sampingan di luar kantor, saya masih bisa punya budget menabung rutin dan sesekali bersenang-senang. Melewati masa muda ketika krismon 98 dan melihat ayah saya berapa kali gagal bayar pinjaman bank membuat saya selalu menabung supaya ada dana darurat. Dan meski sudah jadi karyawan tetap beberapa tahun, saya juga masih sering takut kalau suatu waktu kondisi tidak bagus dan harus berhenti ngantor tanpa ada bemper. Pelan-pelan kantor semakin berkembang dan tantangan semakin bermunculan dengan pr...

Living on My Own

Pada tahun-tahun terakhir kuliah, kondisi kesehatan ayah saya tiba-tiba memburuk. Beliau sempat berminggu-minggu di rumah sakit akibat serangan jantung dan radang organ dalam. Bisnis pun sedang lebih banyak rugi daripada untung, ditambah biaya rumah sakit, hutang keluarga jadi menumpuk. Setelah lulus kuliah saya bekerja secara freelance supaya bisa menjaga ayah sampai kondisi kesehatannya berangsur membaik. Ada teman kuliah yang ngajakin sekolah bahasa di Jepang supaya bisa cari kerja di sana. Sebenarnya bukan investasi yang jelek, dan teman-teman saya pada akhirnya cukup sukses bisa bekerja di sana. Tapi mana mungkin kepikiran ingin nerusin sekolah dalam kondisi carut marut. ^^; Yang penting ayah saya sehat dan kami survive dulu saja lah. Rumah kami akhirnya dijual untuk menutup hutang, kemudian kami pindah menumpang kontrak di rumah saudara yang berbaik hati menampung. Sekamar kami tidur berempat untuk menghemat listrik. Memiliki atau mengkoleksi barang menjadi kemewahan ...

Preparing for JLPT N4

JLPT alias Japanase Languange Proficiency Test adalah ujian kemampuan berbahasa Jepang yang biasanya diadakan setahun 2x, awal Juni dan Awal Desember. Biayanya biasanya ada perubahan tiap tahun tapi berkisar Rp150-250ribu dan sertifikatnya juga tidak ada batas kadaluwarsa. Pendaftaran dibuka sekitar pertengahan Februari dan Agustus, tapi untuk info lebih pasti, selalu cek di  https://jlptonline.or.id/  . Tahun 2020 ini sepertinya ada perubahan akibat wabah Covid-19. Saya mengambil ujian N4 pada tahun 2016. Awalnya saya pikir mau ambil dari N5 dulu, tapi ada teman yang menyarankan untuk langsung ambil N4 karena N5 terlalu mudah. Dan karena tesnya setahun hanya 2x, saya pikir tidak ada salahnya langsung ambil N4 kalau memang tidak begitu jauh bedanya. Tapi perjuangan belajarnya tetap lumayan. Karena bekerja, waktu untuk les sudah tidak mungkin ada, belum lagi biayanya cukup besar serta pertimbangan transport. Akhirnya saya putuskan untuk belajar sendiri menggunakan buku t...