Skip to main content

Living on My Own



Pada tahun-tahun terakhir kuliah, kondisi kesehatan ayah saya tiba-tiba memburuk. Beliau sempat berminggu-minggu di rumah sakit akibat serangan jantung dan radang organ dalam. Bisnis pun sedang lebih banyak rugi daripada untung, ditambah biaya rumah sakit, hutang keluarga jadi menumpuk.

Setelah lulus kuliah saya bekerja secara freelance supaya bisa menjaga ayah sampai kondisi kesehatannya berangsur membaik. Ada teman kuliah yang ngajakin sekolah bahasa di Jepang supaya bisa cari kerja di sana. Sebenarnya bukan investasi yang jelek, dan teman-teman saya pada akhirnya cukup sukses bisa bekerja di sana. Tapi mana mungkin kepikiran ingin nerusin sekolah dalam kondisi carut marut. ^^; Yang penting ayah saya sehat dan kami survive dulu saja lah.

Rumah kami akhirnya dijual untuk menutup hutang, kemudian kami pindah menumpang kontrak di rumah saudara yang berbaik hati menampung. Sekamar kami tidur berempat untuk menghemat listrik. Memiliki atau mengkoleksi barang menjadi kemewahan yang tidak terjangkau karena tidak ada tempat untuk menyimpan. Sehingga perlahan saya harus melepas hal-hal yang sebelumnya bisa saya anggap penting menjadi bukan prioritas lagi.

Butuh penyesuaian yang lumayan berat untuk kami ketika awal-awal numpang. Sebagai keluarga kelas pekerja kami cukup sadar harus menyesuaikan diri dengan kemampuan ekonomi yang sedang sempit. Tapi stress yang tidak tahu harus dibagaimanakan itu tetap ada. Kami mudah marah, bersitegang, atau salah paham untuk urusan yang sebenarnya kecil.

Setelah mengalami melihat ayah saya sempat masuk ruang ICCU berhari-hari, membuat saya tersadar kalau tidak selamanya orangtua akan ada untuk saya. Bagaimana ke depannya kalau saya tidak mengerti cara mengurus diri sendiri. Saya juga merasa membutuhkan space personal yang lebih memadai untuk bisa bekerja, dan semua itu bercampur dengan kecemasan bahwa saya cuma manusia tidak berguna dan hanya bisa merepotkan orang lain. Seringkali saya berpikir mungkin keluarga saya akan lebih bahagia dan beban mereka akan lebih ringan kalau saya tidak ada.

Tahun 2010, saya ngekos dan belajar hidup mandiri. Sesekali saya pulang ke tempat orangtua kalau weekend. Makanan, pakaian, yang biasanya apa-apa sudah disiapkan jadi harus saya cari dan siapkan sendiri. Awalnya bingung banget ngga ngerti ini itu. Kondisi pemasukan 1-2 tahun pertama juga tidak bagus sampai saya sempat hanya makan nasi bungkus Rp5000 untuk seharian. (Goceng di Jakarta dapat nasi 1 sayur dan 1 tempe waktu itu)

Tapi setelah tinggal terpisah dari orangtua, hubungan kami malah jadi membaik. Kami lebih saling menghargai keberadaan satu sama lain ketika bertemu. Sebelumnya mungkin baik saya maupun orang tua bisa dibilang taking for granted atas kebersamaan yang kami miliki sebelumnya.

Saya juga ternyata sangat menikmati kemandirian dan kebebasan untuk mengatur hidup saya sendiri. Kamar kos saya sekitar 2x3 meter, ada ac, kamar mandi di luar. Ruang kecil itu jadi personal space yang berharga bagi saya, memberi tempat tinggal dan ruang bekerja yang nyaman, serta menggembleng saya untuk lebih memahami diri sendiri.

Setahun setelah ngekos, 4 tahun setelah lulus kuliah, saya diterima berkantor di sebuah perusahaan start up. Di situ kemudian babak kehidupan selanjutnya dimulai.

Comments

Popular posts from this blog

Enjoying Office Life

Tadinya saya pikir saya lebih cocok freelance dan bekerja sendiri, tapi ternyata berkantor dan belajar bekerja sama dengan orang lain juga menyenangkan dan jadi pengalaman yang tak kalah penting. Saya sangat menyukai pekerjaan saya. Teman-teman di kantor menyenangkan, dan perusahaan menerapkan sistem meritokrasi yang berdasarkan kemampuan pegawai. Gaji mungkin tidak sebesar kantor-kantor besar yang lebih established. Tapi cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Ditambah dengan proyek sampingan di luar kantor, saya masih bisa punya budget menabung rutin dan sesekali bersenang-senang. Melewati masa muda ketika krismon 98 dan melihat ayah saya berapa kali gagal bayar pinjaman bank membuat saya selalu menabung supaya ada dana darurat. Dan meski sudah jadi karyawan tetap beberapa tahun, saya juga masih sering takut kalau suatu waktu kondisi tidak bagus dan harus berhenti ngantor tanpa ada bemper. Pelan-pelan kantor semakin berkembang dan tantangan semakin bermunculan dengan pr...

About Me?

Bila dikisahkan, saya rasa 30 tahun terakhir kehidupan saya mungkin sesuatu yang umum ditemukan. Genrenya boleh dikatakan slice of life yang sesekali dramatis. Belum tahu endingnya akan seperti apa, bisa saja jadinya kentang. Tapi sekentang-kentangnya semoga masih bisa jadi french fries atau baked potato yang memberi kebahagiaan. (eh gimana?) Saya lahir sebagai anak perempuan pertama dari 2 bersaudara di keluarga berlatar belakang minoritas dan kelompok ekonomi menengah tanggung. Ngga pantes dibilang miskin tapi dibilang kaya juga susah. Pernah sih ada momen yang bolehlah disebut lumayan kaya, tapi sejak krismon 98, grafis keuangan keluarga terus menurun. Meski mepet-mepet, saya cukup beruntung segala kebutuhan saya dari kecil hingga dewasa terpenuhi dengan baik. Orang tua saya juga termasuk yang memberi kebebasan untuk saya mengeksplor hobi sedari kecil. Meski keduanya tidak lulus SD, mereka menganggap pendidikan adalah penting untuk anak-anaknya dan bekerja keras menyekolahkan ...

2 Januari 2015

Waktu itu saya terbangun di pagi buta dengan firasat yang aneh. Seperti ada yang menyuruh "Ayo ke Jepang!" Tidak biasanya memang saya bangun kepagian. Apalagi pake firasat-firasat segala. Beberapa bulan sebelumnya saya memang baru berwisata ke Jepang bersama adik saya. Jadi mungkin sekedar kangen ingin jalan-jalan lagi saja. Atau mungkin juga itu firasat untuk melarikan diri dari situasi-situasi menyebalkan di masa depan.  "Tahu diri lah sama isi dompetmu" pikir saya selanjutnya. Lalu saya pun kembali melanjutkan tidur. Besok sudah kembali ngantor jadi marilah puas-puasin di penghujung hari libur Tahun Baru 2015.