Skip to main content

Combo of Sickness



Memasuki tahun 2015 saya seperti mendapatkan wangsit aneh. Seperti ada dorongan yang bukan dari diri saya sendiri supaya berjuang untuk bisa tinggal di Jepang. Tapi saya baru saja jalan-jalan ke sana di tahun sebelumnya jadi mungkin itu cuma "kangen" yang mendadak muncul saja. Tapi kalau merefleksikan kembali momen tersebut, bisa juga itu naluri saya untuk "melarikan diri" dari hal-hal tidak enak yang bermunculan beberapa tahun ke depan.

Di tahun ini saya masuk kepala 3. Tuntutan pekerjaan di kantor semakin besar dan saya diberi kepercayaan untuk menjadi lead. Freelance tetap saya ambil. Selama masih bisa dan selama proyek nya saya suka, rasanya pamali kalau menolak pekerjaan. Seiring bertambahnya  tanggung jawab dan jam lembur, tanpa saya sadari saat itu ada stress yang menumpuk.

Perlahan tapi pasti kondisi badan saya menurun. Awalnya batuk yang tidak berhenti-berhenti. Kemudian diikuti sakit kepala dan meriang yang tidak berkesudahan. Badan selalu merasa kedinginan bahkan ketika sedang siang bolong jemuran di terik matahari. Bekerja pun jadi kurang lancar.

Saya mencoba bertahan sekuat-kuatnya karena proyek kantor tengah dalam masa penting. 2 minggu lebih kondisi semakin buruk dan akhirnya saya ke dokter ketika nafsu makan sudah tidak ada dan saya jadi panik. Setelah diukur suhu barulah saya tahu kalau ternyata selama 2 minggu terakhir badan saya sedang demam. 38 derajat lebih kata dokter.

Setelah berapa kali tes darah akhirnya saya didiagnosa menderita demam berdarah dengan combo gejala tifus, lalu diarahkan untuk opname. Karena sudah ada asuransi, saya tidak terbebani dengan biaya rumah sakit. Tapi pekerjaan-pekerjaan yang tertinggal membuat saya merasa cemas. Rambut saya jadi merah, pecah, dan menipis kayak kurang gizi.

Setelah seminggu di rumah sakit dan seminggu pemulihan di rumah saya pun kembali mengantor. Namun stamina masih tidak bagus dan kemampuan kerja sepertinya menurun.  Atasan saya akhirnya memutuskan untuk mengurangi tanggung jawab pekerjaan dan memindahkan posisi saya untuk pekerjaan lain di bawah supervisi junior.

Keputusan atasan bisa dipahami. Junior saya pun kompeten dan hubungan kami sangat baik. Tapi saya merasa amat sangat bersalah karena bisa sampai sakit dan merepotkan teman-teman kantor lainnya. Saya takut jadi beban. Semua ketakutan dan kecemasan saya ternyata menjadi racun yang membawa saya ke penyakit selanjutnya...

Comments

Popular posts from this blog

Enjoying Office Life

Tadinya saya pikir saya lebih cocok freelance dan bekerja sendiri, tapi ternyata berkantor dan belajar bekerja sama dengan orang lain juga menyenangkan dan jadi pengalaman yang tak kalah penting. Saya sangat menyukai pekerjaan saya. Teman-teman di kantor menyenangkan, dan perusahaan menerapkan sistem meritokrasi yang berdasarkan kemampuan pegawai. Gaji mungkin tidak sebesar kantor-kantor besar yang lebih established. Tapi cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Ditambah dengan proyek sampingan di luar kantor, saya masih bisa punya budget menabung rutin dan sesekali bersenang-senang. Melewati masa muda ketika krismon 98 dan melihat ayah saya berapa kali gagal bayar pinjaman bank membuat saya selalu menabung supaya ada dana darurat. Dan meski sudah jadi karyawan tetap beberapa tahun, saya juga masih sering takut kalau suatu waktu kondisi tidak bagus dan harus berhenti ngantor tanpa ada bemper. Pelan-pelan kantor semakin berkembang dan tantangan semakin bermunculan dengan pr...

About Me?

Bila dikisahkan, saya rasa 30 tahun terakhir kehidupan saya mungkin sesuatu yang umum ditemukan. Genrenya boleh dikatakan slice of life yang sesekali dramatis. Belum tahu endingnya akan seperti apa, bisa saja jadinya kentang. Tapi sekentang-kentangnya semoga masih bisa jadi french fries atau baked potato yang memberi kebahagiaan. (eh gimana?) Saya lahir sebagai anak perempuan pertama dari 2 bersaudara di keluarga berlatar belakang minoritas dan kelompok ekonomi menengah tanggung. Ngga pantes dibilang miskin tapi dibilang kaya juga susah. Pernah sih ada momen yang bolehlah disebut lumayan kaya, tapi sejak krismon 98, grafis keuangan keluarga terus menurun. Meski mepet-mepet, saya cukup beruntung segala kebutuhan saya dari kecil hingga dewasa terpenuhi dengan baik. Orang tua saya juga termasuk yang memberi kebebasan untuk saya mengeksplor hobi sedari kecil. Meski keduanya tidak lulus SD, mereka menganggap pendidikan adalah penting untuk anak-anaknya dan bekerja keras menyekolahkan ...

2 Januari 2015

Waktu itu saya terbangun di pagi buta dengan firasat yang aneh. Seperti ada yang menyuruh "Ayo ke Jepang!" Tidak biasanya memang saya bangun kepagian. Apalagi pake firasat-firasat segala. Beberapa bulan sebelumnya saya memang baru berwisata ke Jepang bersama adik saya. Jadi mungkin sekedar kangen ingin jalan-jalan lagi saja. Atau mungkin juga itu firasat untuk melarikan diri dari situasi-situasi menyebalkan di masa depan.  "Tahu diri lah sama isi dompetmu" pikir saya selanjutnya. Lalu saya pun kembali melanjutkan tidur. Besok sudah kembali ngantor jadi marilah puas-puasin di penghujung hari libur Tahun Baru 2015.